Cari...

Islamik

Orang Yang Tidak Suka Mendengar Nasihat Hatinya Sudah Mati

Kongsi

Orang yang sudah rosak hatinya sudah tentu tidak akan mendengar nasihat dari orang lain, lebih-lebih lagi dari orang tua nya. Hati mati ini bermaksud segala perbuatan haram dan maksiat akan dipandang sebagai kebaikan. Baginya maksiat bagaikan seperti hanya meminum air.

Firman Allah :(Dengan sebab keingkaran mereka), Allah mematerikan atas hati mereka serta pendengaran mereka dan pada penglihatan mereka ada penutupnya dan bagi mereka pula disediakan azab seksa yang amat besar.

(Al-Baqarah 2 : 7)

Di antara punca terjadinya hati berpenyakit, kemudian menjadi keras dan MATI sangat banyak sekali. Tetapi secara umumnya semua jenis pelanggaran terhadap hukum Allah berterusan tanpa bertaubat adalah menjadi punca kegelapan hati.

Mentafsirkan Firman Allah ayat 7 surah Al-Baqarah di atas Ibnu Kathir menyatakan,

hati mati
Foto: wallpaper-gallery.net

Mengenai firman-Nya, Khatamallahu, As-Suddi mengatakan, artinya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengunci mati. (hati mereka)

Qatadah mengatakan, “Syaitan telah menguasai mereka karena mereka telah mentaatinya. Maka, Allah mengunci mati hati dan pendengaran serta pandangan mereka ditutup, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat mendengarkan, memahami, dan berfikir.”

Ibnu Juraij menceritakan, Mujahid mengatakan, Allah mengunci mati hati mereka. Dia berkata aththab’u artinya melekatnya dosa di hati, maka dosa-dosa itu senantiasa mengelilinginya dari segala arah sehingga berhasil menemui hati tersebut. Pertemuan dosa dengan hati tersebut merupakan kunci mati.

Lebih lanjut Ibnu Juraij mengatakan, kunci mati dilakukan terhadap hati dan pandangan mereka.

Ibnu Juraij juga menceritakan, Abdullah bin Katsir memberitahukan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan, arraan (penghalangan) lebih ringan daripada aththob’u (penutupan dan pengecapan), dan ath-thob’u lebih ringan daripada al-iqfaal (penguncian).

Al-A’masy mengatakan, Mujahid memperlihatkan kepada kami melalui tangannya, lalu ia mengatakan, mereka mengetahui bahwa hati itu seperti ini, iaitu telapak tangan. Jika seseorang berbuat dosa, maka dosa itu menutupinya sambil membongkokkan jari kelingkingnya, ia (Mujahid) mengatakan, “seperti ini,” Jika ia berbuat dosa lagi, maka dosa itu menutupinya, Mujahid membongkokkan jarinya yang lain ke telapak tangannya. Demikian selanjutnya hingga seluruh jari-jarinya menutup telapak tangannya. Setelah itu Mujahid mengatakan, “Hati mereka itu terkunci mati.”

Baca juga  Adab Semasa Menyambut Hari Raya Aidilfitri

Mujahid mengatakan, mereka memandang bahwa hal itu adalah ar-raiin (kotoran, dosa).

Hal yang sama juga diriwayatkan Ibnu jarir, dari Abu Kuraib, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Mujahid.

Al-Qurthubi mengatakan, umat ini telah sepakat bahwa Allah Ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan menutup dan mengunci mati hati orang-orang kafir sebagai balasan atas kekufuran mereka itu, sebagaimana yang difirmankan-Nya :

Hati Mati

“Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka kerana kekafirannya.” (An-Nisaa’: 155).

Al-Qurthubi juga menyebutkan hadis Hudzaifah yang terdapat di dalam kitab As-Shahih, 

dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Fitnah-fitnah itu menimpa pada hati bagaikan tikar di anyam sehelai demi sehelai. Hati mana yang menyerapnya, maka digoreskan titik hitam padanya. Dan hati mana yang menolaknya, maka digoreskan padanya titik putih. Sehingga, hati manusia itu terbagi pada dua macam: hati yang putih seperti air jernih, dan ia tidak akan dicelakai oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan yang satu lagi berwarna hitam kelam, seperti tempat minum yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran.”

Ibnu Jarir mengatakan, yang sahih menurutku dalam hal ini adalah apa yang bisa dijadikan perbandingan, iaitu hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anh., ia menceritakan : 

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia mengerjakan suatu perbuatan dosa, maka akan timbul noda hitam dalam hatinya. Jika ia bertaubat, menarik diri dari dosa itu, dan mencari redha Allah, maka hatinya menjadi jernih. Jika dosanya bertambah, maka bertambah pula nodanya sehingga memenuhi hatinya. Itulah yang disebut ar-ran (penutup), yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang telah mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

Baca juga  Masjid Bergerak, Boleh Solat Walaupun Berjalan Jauh

Hadis di atas diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Nasa’i dari Qutaibah, Al-Laits bin Sa’ad. Serta Ibnu Ibnu Majah, dari Hisyam bin Ammar, dari Hatim bin Ismail dan Al-Walid bin Muslim. Ketiganya dari Muhammad bin Ajlan. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini berstatus hasan sahih.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. memberitahukan dalam sabdanya bahawa dosa itu jika sudah bertumpuk-tumpuk di hati, maka ia akan menutupnya, dan jika sudah menutupnya, maka didatangkan padanya kunci mati dari sisi Allah Ta’ala, sehingga tidak ada lagi jalan bagi iman untuk menuju ke dalamnya, dan tidak ada jalan keluar bagi kekufuran untuk lepas darinya. Itulah kunci mati yang disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.”

Perbandingan kunci mati terhadap apa yang masih dapat dijangkau oleh qasad mata, tidak dapat dibuka dan diambil isinya kecuali dengan memecahkan dan membongkar kunci mati itu dari barang itu. Demikian halnya dengan iman, ia tidak akan sampai ke dalam hati orang (oleh Allah Ta’ala) telah terkunci mati hati dan pendengarannya, kecuali dengan membongkar dan melepas kunci mati tersebut dari hatinya.

Perlu diketahui bahwa waqaf taam (berhenti sempurna saat membacanya) adalah pada

firman-Nya, Khatamallahu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim :

“Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.” 

“Serta penglihatan mereka ditutup,” 

(ayat-ayat di atas) merupakan kalimat sempurna, dengan pengertian bahwa kunci mati itu dilakukan terhadap hati dan pendengaran. Sedangkan ghisyawah adalah penutup terhadap pandangan, sebagaimana yang dikatakan As-Suddi dalam tafsirnya, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa orang sahabat Rasulullah . mengenai 

firman-Nya : “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka,” ia mengatakan, ‘Sehingga dengan demikian itu mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berfikir dan mendengar. Dan dijadikan penutup pada pandangan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

Baca juga  Anak Gadis Sudah Pandai Berkeliaran Menggatal Dengan Lelaki

Setelah menyifati orang-orang mukmin pada empat ayat pertama surah Al-Baqarah, lalu memberitahukan keadaan orang-orang kafir dengan kedua ayat di atas, kemudian Allah Ta’ala menjelaskan keadaan orang-orang munafik, iaitu mereka yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Ketika keberadaan mereka semakin samar di tengah-tengah umat manusia, Allah Ta’ala semakin gencar menyebutkan berbagai sifat kemunafikan mereka, sebagaimana Allah telah menurunkan surah Bara’ah dan Munafiqun tentang mereka serta menyebutkan mereka di dalam surah An-Nur dan surah-surah lainnya guna menjelaskan keadan mereka agar orang-orang menghindarinya dan juga menghindari dari terjerumus kepadanya.

Sebagai i’tibar, marilah kita sama2 sentiasa muhasabah diri, menjauhi segala bentuk syubhat dan haram dan jangan sesekali berhenti bertaubat. Jangan juga berputus asa disebabkan banyaknya dosa bahkan wajib sentiasa berharap penuh Allah Ta’ala akan mengampuni kita didalam kemurahanNya.

Sumber: facebook

Tag:

Anda mungkin juga meminati

Tinggalkan komen

Your email address will not be published. Required fields are marked *